Telur cacing bisa masuk ke dalam tubuh si Kecil dengan berbagai cara. Jika hal ini terjadi, si Kecil bisa menderita cacingan. Balita paling rentan mengalaminya karena aktivitas bermainnya yang sangat tinggi dan senang bermain di luar rumah. Jangan biarkan cacing bertahan di tubuhnya dan menghambat pertumbuhan si Kecil.
Cacingan merupakan masalah kesehatan yang kerap menyerang balita. Meski umum terjadi pada balita, cacingan tak boleh diremehkan. Penyakit ini dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan si Kecil hingga berpengaruh pada kecerdasannya. Cacing dapat masuk ke dalam tubuh si Kecil, melalui telur-telur cacing yang melekat dalam jari dan kukunya, yang kemudian masuk ke mulut melalui makanan yang sebelumnya Ia pegang. Telur cacing ini pada akhirnya masuk ke dalam saluran pencernaan dan akan berkembang biak membentuk sebuah koloni yang menyerap setiap nutrisi makanan yang dikonsumsi si Kecil. Hal ini akan berdampak buruk pada pertumbuhan anak karena asupan makanan yang dikonsumsinya diserap oleh cacing. Oleh karena itu, cacingan bisa membuat balita kekurangan gizi. Selain itu, si Kecil bisa pula menderita anemia karena cacing menyerap habis asupan zat gizi yang dimakan si Kecil. Penyakit anemia yang dialami si Kecil dalam jangka panjang akan mengakibatkan kecerdasan anak menurun karena asupan oksigen ke otak terganggu.
Beberapa gejala akan muncul ketika si Kecil mengalami cacingan. Dalam buku berjudul Panduan Pintar Merawat Bayi dan Balita karangan dr. Eveline S.pA IBCLC dan Nanang Djamaludin, gejala cacingan yang umum terjadi pada anak adalah gatal di daerah dubur dan ditemukan cacing pada feses anak. Tak heran, saat cacingan, si Kecil akan menggaruk-garuk anusnya baik di siang hari maupun malam hari sehingga kerap mengganggu aktivitasnya. Selain itu, tidurnya pun tak nyenyak karena gatal yang dirasakan. Gejala lain yang akan muncul adalah anak akan kehilangan nafsu makan dan terlihat lesu, tubuh terlihat kurus dengan perut membuncit, sering mengalami sakit perut, mual, muntah-muntah, kembung, dan diare.
Untuk mencegah cacingan yang terjadi pada anak biasanya dilakukan dengan pemberian obat cacing setiap 6 bulan sekali. Pencegahan ini bisa dilakukan pada anak-anak usia di atas 2 tahun dan tidak dianjurkan pada anak usia di bawah 2 tahun. Mam dapat memastikan apakah si Kecil menderita cacingan atau tidak dengan mengecek fesesnya. Jika ditemukan cacing dalam feses, itu artinya si Kecil terkena cacingan.
Selain pemberian obat cacing, ada cara yang bisa Mam lakukan untuk mencegah anak terserang cacingan. Beberapa cara berikut ini bisa Mam coba.
- Membiasakan hidup bersih pada anak
Biasakan anak untuk hidup bersih sejak dini, seperti selalu mencuci tangan dan kaki menggunakan sabun sampai bersih usai bermain, atau bisa juga mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. Anda bisa melatihnya dengan praktik mencuci tangan bersama. Jika si Kecil belum begitu mengerti, dampingi si Kecil setiap kali mencuci tangan atau kaki. Jika dibiasakan, lama-lama si Kecil akan terampil melakukannya sendiri. Kebiasaan ini akan membuat si Kecil terhindar dari telur cacing yang bisa masuk ke dalam tubuhnya. - Biasakan anak menggunakan sandal saat bermain di luar rumah
Biasakan si Kecil memakai sandal saat bermain, supaya kakinya tidak kotor terkena tanah. Lepas sandal lalu cuci kaki sampai bersih setelah bermain untuk beraktivitas di dalam rumah agar terhindar dari cacing. - Cuci bahan makanan dan peralatan makan
Gunakan air mengalir untuk mencuci bahan makanan seperti buah dan sayuran sebelum dikonsumsi dan dimasak. Selain itu, semua alat makan dan alat memasak juga harus dicuci sampai bersih. Hal ini dilakukan agar telur-telur cacing tidak menempel pada makanan dan peralatan dapur. Untuk melatih si Kecil, biasakan mengingatkannya mencuci buah, seperti apel, jambu, pir dengan air yang mengalir sampai bersih sebelum memakannya. - Hindarkan anak jajan sembarangan
Balita paling suka jajan padahal jajanan yang dibelinya belum tentu higienis dan terbuat dari bahan-bahan yang terjamin kesehatannya. Terlebih jajanan yang dijajakan di tempat-tempat terbuka, bisa jadi makanan tersebut sudah terkontaminasi debu. Tak hanya itu, wadah dan alat memasak yang digunakan pun belum tentu terjamin kebersihannya. Cegah si Kecil jajan sembarangan dan jadilah Mam yang kreatif dengan membuatkan sendiri kudapan dan camilan untuk si Kecil agar Ia tak ingin jajan lagi. - Rutin memotong kuku
Balita paling suka bermain di luar, entah apa saja yang dipegangnya hingga kerap membuat kuku tangannya kotor. Jangan biarkan kuku tangan dan kakinya panjang dan berwarna kehitaman karena penuh tanah atau kotoran lainnya. Kuman dan bakteri, paling senang bersarang di sana, termasuk telur cacing. Potong kuku si Kecil secara rutin, yakni seminggu sekali usai mandi atau sesuaikan dengan kondisi kuku si Kecil.
Selamat mencoba, Mam.







16 Apr 2014
Penulis Dewi Novianingsih
0 Komentar











