Setiap ibu hamil ingin janin yang dikandungnya sehat dan terlahir dengan sehat dan sempurna. Namun, jika mendapatkan vonis kehamilan kosong atau yang dikenal blighted ovum, itu artinya ada masalah dengan kehamilan Anda. Apa sebenarnya blighted ovum itu?
Seorang ibu muda merasa sangat bahagia karena sudah telat menstruasi dua minggu. Ia yakin tanda-tanda kehamilan yang telah lama dinanti-nantikannya kini tengah dialami. Untuk melegakan rasa penasarannya, ia pun membeli alat tes kehamilan ke minimarket dan melakukan tes kehamilan. Bahagia tentu dirasakan ketika ia mendapati ada dua garis merah bertengger di alat tes kehamilan (test pack) yang berarti menunjukkan bahwa sang ibu muda tersebut hamil. Beberapa minggu kemudian, ia pun memeriksakan kehamilannya ke dokter. Namun, usai memeriksakan kehamilannya ia terpukul karena dokter memvonis bahwa ia mengalami blighted ovum atau kehamilan kosong. Memang, manusia hanya bisa berencana, tetapi Tuhanlah yang menentukan. Mengandung calon buah hati dengan sehat selama 9 bulan 10 hari tentu sudah didambakan oleh ibu muda ini. Vonis blighted ovum atau kehamilan kosong membuat kehamilannya tak bisa dipertahankan dan harus segera dilakukan kuretase.
Banyak para ibu yang tidak mengetahui kehamilan blighted ovum ini. Lantas ada pula yang menghubungkannya dengan mistik yakni kehamilan yang hilang. Padahal sang ibu memang mengalami kehamilan kosong. Supaya lebih jelas, berikut ini diulas untuk para ibu.
Apa Itu Blighted Ovum atau Kehamilan Kosong?
Kehamilan blighted ovum atau kehamilan kosong adalah keadaan pada seorang wanita yang merasa dirinya sedang hamil, namun tidak ada janin di dalam kandungannya. Beberapa tanda kehamilan pun akan muncul pada wanita yang mengalami blighted ovum ini, seperti terlambat menstruasi, mual dan muntah (morning sickness), payudara mengeras, perut mulai membesar, hingga tanda positif hamil saat dilakukan tes kehamilan. Blighted ovum ini terjadi ketika pada saat konsepsi, sel telur yang bertemu sperma dan telah dibuahi berkembang tidak sempurna karena berbagai faktor dan hanya membentuk sebuah kantung ketuban dan plasenta. Sedangkan telur yang dibuahi tidak akan berkembang menjadi sebuah embrio. Plasenta kemudian tetap bertahan di rahim dan menghasilkan hormon HCG (Human Chorionic Gonadotropim). HCG inilah yang kemudian menimbulkan adanya gejala-gejala kehamilan pada ibu hamil dengan blighted ovum. Sehingga mereka yang mengalami blighted ovum merasa biasa-biasa saja seperti wanita hamil lainnya, ia tengah hamil dan sebentar lagi akan memiliki buah hati nan lucu. Namun, di usia kehamilan 6 hingga 8 minggu kehamilan, ketika mereka memeriksakan kandungannya, baru diketahui kalau kehamilannya blighted ovum (kehamilan kosong). Cara mengetahui kehamilan blighted ovum ini adalah dengan melakukan pemeriksaan USG. Dari pemeriksaan ini akan diketahui bahwa terdapat kantung kehamilan dengan embrio yang tidak berkembang. Selain itu, seorang wanita yang mengalami blighted ovum biasanya juga akan mengalami perdarahan seperti gejala keguguran.
Apa Sih Penyebab Blighted ovum?
Penyebab blighted ovum sendiri sebenarnya belum bisa diketahui secara pasti. Seperti yang dilansir doktersehat.com, sekitar 60% kasus blighted ovum disebabkan oleh kelainan kromosom pada proses pembuahan sel telur oleh sperma. Beberapa faktor lain yang menjadi penyebab blighted ovum ini adalah infeksi torch, rubella, streptococus, diabetes mellitus yang tidak terkontrol, kadar beta HCG yang terlalu rendah, hingga adanya antibodi terhadap janin. Selain itu, usia yang sudah tua juga meningkatkan risiko blighted ovum karena kualitas sperma dan sel telur yang sudah menurun.
Bagaimana Cara Menanganinya?
Tak ada cara lain dalam menangani kehamilan blighted ovum selain mengeluarkan hasil konsepsi dari rahim. Caranya dengan melakukan kuretase atau memberikan obat. Kuretase memiliki kelebihan karena dapat menghindari terjadinya infeksi dan untuk pemeriksaan kromosom.
Adakah Cara Pencegahannya?
Blighted ovum memang tidak dapat dicegah dan dihindari. Namun, dengan melakukan pemeriksaan sebelum hamil, dapat memperkecil risiko blighted ovum ini. Pemeriksaan ini yakni pemeriksaan torch dan imunisasi rubella. Anda pun juga bisa mengontrol gula darah sebelum dan selama hamil dan menghindari rokok untuk mendapatkan kualitas ovum yang baik.
Bagaimana kalau pernah mengalaminya dan ingin hamil normal?
Tenang Mam, seorang wanita yang pernah mengalami blighted ovum bisa hamil normal kok. Karena blighted ovum tidak akan berpengaruh pada rahim dan kesuburan wanita. Namun, bila ternyata blighted ovum ini dialami secara berulang, sebaiknya dilakukan pemeriksaan secara intensif karena bisa saja terjadi kelainan kromosom pada wanitanya atau pasangannya. Berbagai pemeriksaan menyangkut tes genetik pun bisa disarankan oleh dokter untuk melakukan penanganan yang tepat terhadap kasus blighted ovum yang dialami pasiennya. Sehingga kasus blighted ovum tidak akan terulang lagi dan segera mendapatkan momongan.
Sekarang Anda sudah paham mengenai blighted ovum bukan? Terkadang ada yang mengait-ngaitkan blighted ovum dengan kanker rahim, namun sebenarnya tidak ada kaitannya. Semoga kehamilan Anda selalu sehat hingga tiba saatnya melahirkan nanti.







