Buta Warna Pada Anak

Anda menemukan si Kecil menempatkan warna yang tidak seharusnya pada gambarnya. Hal ini bisa terjadi karena terkadang anak-anak belum mampu menempatkan warna yang seharusnya pada suatu objek/barang, atau mungkin tindakan itu adalah wujud ekspresi si Kecil dalam mengekspresikan imajinasi mereka. Akan tetapi, hal ini juga perlu diwaspadai karena dikhawatirkan si Kecil mengalami buta warna.

Apa itu buta warna?

Buta warna atau colour vision deficiency adalah suatu kondisi di mana tidak adanya atau tidak berfungsinya sel sensitif pada warna di lapisan retina. Retina adalah lapisan saraf yang mengirimkan rangsangan cahaya ke otak. Penderita buta warna mampu melihat sesuatu dengan jelas namun kesulitan membedakan warna merah, hijau, biru atau warna lainnya.

Buta warna dapat terjadi pada anak-anak. Anak yang mengalami buta warna biasanya akan sulit melakukan kegiatan sehari-hari, seperti bersekolah, memilih pakaian, dan lain-lain karena anak tidak mampu membedakan warna. Selain itu, bagi sebagian anak yang buta warna semua warna akan terlihat sama.

Anak sudah mulai bisa mengetahui adanya perbedaan warna sejak usia 18 bulan. Kemudian, ketika usianya memasuki 3 tahun, anak akan mampu mengenal lalu menyebutkan warna yang dilihatnya, dimulai dengan warna-warna dasar.   

Gejala buta warna pada anak?

Buta warna pada anak sulit dideteksi karena biasanya si Kecil tidak menyadari bahwa dirinya memiliki masalah dalam mengenali warna. Namun, apabila anak Anda belum mampu menyebutkan warna terutama warna primer (merah, kuning, biru) atau salah dalam menyebut warna pada suatu objek atau gambar yang umum (misalnya awan berwarna coklat atau rumput berwarna biru) pada usia 3-4 tahun padahal sudah sering dilatih dan diajarkan, maka Anda sebaiknya membawa anak ke dokter mata untuk pengecekan lebih lanjut.

Apa saja jenis buta warna?

Ada 3 jenis buta warna yang masing-masing memiliki gejala, sebagai berikut:

  1. Trikromasi
    Trikromasi disebabkan oleh adanya perubahan tingkat sensitivitas warna dari satu atau lebih sel kerucut pada retina. Jenis buta warna ini adalah jenis yang paling sering dialami oleh banyak orang. Trikromasi terbagi menjadi 3, yaitu:
  • Protanomali, penderita protanomali akan sulit mengenali warna merah.
  • Deuteromali, anak akan sulit mengenali warna hijau.
  • Tritanomali, si Kecil sulit mengenali warna biru.
  1. Dikromasi
    Buta warna dikromasi terjadi apabila salah satu dari tiga sel kerucut tidak ada. Dikromasi juga terbagi ke dalam 3 jenis sebagai berikut:
  • Protanopia, retina tidak memiliki sel kerucut yang peka terhadap warna merah.
  • Deuteranopia, retina tidak memiliki sel kerucut yang peka terhadap warna hijau.
  • Tritanopia, retina tidak memiliki sel kerucut yang peka terhadap warna biru.
  1. Monokromasi
    Monokromasi adalah buta warna total. Anak yang menderita monokromasi hanya mampu melihat warna hitam dan putih.

Bagaimana mengetahui anak buta warna?

Beberapa anak tidak menyadari bahwa dirinya mengalami buta warna sampai ia menjalani tes. Tes yang digunakan adalah tes Ishihara di mana terdapat lingkaran yang berisi lingkaran-lingkaran kecil berbagai warna yang disusun sedemikian rupa sehingga membentuk pola tertentu seperti angka, simbol, dan sebagainya. Tes Ishihara dirancang sedemikian rupa sehingga anak normal dan anak yang buta warna akan memiliki persepsi yang berbeda terhadap gambar pola yang diperlihatkan (tergantung dari jenis buta warnanya).

Penyebab buta warna pada anak?

Penyebab utama buta warna adalah faktor genetik. Buta warna adalah kelainan yang terkait dengan kromosom X. Kromosom pada laki-laki terdiri dari kromosom X dan Y, artinya laki-laki hanya memiliki satu kromosom X. Dengan demikian, jika kromosom X terganggu atau rusak, maka anak berpotensi lebih besar mengalami buta warna. Berbeda dengan perempuan yang memiliki dua kromosom X, jika salah satu kromosom X mengalami gangguan, maka masih ada satu kromosom X lagi sehingga ia hanya menjadi faktor pembawa sifat (carrier) buta warna. Itulah mengapa buta warna kebanyakan dialami oleh anak laki-laki. Apabila ibunya hanya pembawa sifat (carrier) pun, anak laki-laki bisa menderita buta warna, namun belum tentu bagi anak perempuannya. Buta warna yang disebabkan oleh faktor genetik ini tidak dapat disembuhkan.

Selain karena faktor genetik, buta warna juga bisa diakibatkan oleh berbagai penyakit, seperti diabetes, anemia, dan sebagainya. Obat-obatan juga dapat menyebabkan buta warna, namun kemungkinan dapat sembuh dengan berhenti mengonsumsi obat-obatan tersebut.  

Semoga bermanfaat ya, Mam.

 

Baca Juga:

Related Posts

Comments :