Anak-anak memang akrab dengan aneka makanan berbahan gula, seperti permen dan cokelat. Setiap hari makanan ini selalu dikonsumsi oleh mereka. Para orangtua pun, terkadang mengalihkan perhatian anak yang sedang rewel dengan memberinya permen. Lantas benarkah konsumsi gula berlebih bisa membuat perilaku hiperaktif?
Balita memang sangat suka pada jenis makanan manis seperti permen dan cokelat. Di rumah, para orangtua biasanya menyediakan makanan berbahan gula ini untuk anak-anak mereka. Selain itu, saat balita jajan, permen atau cokelat ini juga tak absen dibelinya.
Saat anak-anak rewel dan sulit diatur, terkadang orangtua memberi permen supaya perhatian anak teralihkan dan tak lagi rewel. “Adek, diam dong jangan nangis, Mama punya permen buat Adek,” kalimat ini terucap oleh Mama untuk menghibur si balita yang sedang rewel. Kondisi seperti ini sering sekali terjadi dan membuat para ibuu menjadikan permen sebagai senjata ampuh setiap kali susah menghadapi anaknya yang rewel. Bahkan, hal ini agaknya sudah menjadi kebiasaan para orangtua untuk menghibur atau menghentikan kerewelan anaknya.
Jika Mama selama ini kerap memberi buah hati permen supaya ia tak lagi rewel dan lebih nyaman, sebaiknya dipertimbangkan lagi. Karena kandungan dalam permen tidak selalu aman untuk kesehatan buah hati. Permen adalah jenis makanan yang memiliki kadar gula tinggi karena memang terbuat dari gula. Selain itu, kandungan bahan lain seperti pewarna tentu juga berbahaya jika terus-terusan dikonsumsi oleh balita. Kini, seiring zaman yang semakin modern, permen dan cokelat juga dibuat dan dijual dengan aneka bentuk dan warna yang bermacam-macam. Bentuk-bentuk permen yang unik khas karakter anak-anak, seperti hewan, kartun menggenapi kegemaran anak pada makanan berbahan gula ini. Begitu pun cokelat yang juga menjadi kegemaran anak-anak. Setiap kali jajan, cokelat, permen, dan minuman manis menjadi favoritnya. Lantas benarkah dengan sering mengkonsumsi makanan yang manis-manis seperti permen dan cokelat bisa mengakibatkan anak hiperaktif?
Pada tahun 1973, penelitian mengenai adanya hubungan antara konsumsi gula dan hiperaktivitas ini dilakukan oleh Dr. Benjamin Feingold. Dari penelitian yang dilakukan ini, belum ada kepastian mengenai pengaruh antara gula dan perilaku hiperaktif. Selanjutnya, berbagai penelitian untuk membuktikan hubungan keduanya juga dilakukan oleh para peneliti, namun juga tidak didapati pengaruhnya. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr Wesnes, seperti dilansir oleh www.yalescientific.org menyimpulkan bahwa konsumsi gula secara berlebihan memang bisa mempengaruhi perilaku anak, yakni kesulitan dalam memfokuskan perhatiannya.
Akhirnya, pada tahun 1982, National Institute of Health memberikan pengumuman, bahwa tidak ada hubungan antara perilaku anak hiperaktif karena mengkonsumsi banyak gula. Penelitian ini juga menemukan bahwa pada beberapa anak yang memiliki kesensitifan terhadap gula, memang bisa mengalami gangguan konsentrasi dan kesulitan belajar jika mengkonsumsi gula dalam jumlah yang besar. Bagi anak yang tidak sensitif terhadap gula, tidak akan mengalaminya. Orangtua bisa memperhatikan lingkungan sekitar buah hati jika muncul kekhawatiran si kecil mengalami perilaku hiperaktif, karena mungkin saja ada hal tertentu yang membuatnya mengalami overstimulasi.
Meskipun telah diketahui bahwa tidak ada pengaruh antara konsumsi makanan berbahan gula dengan perilaku hiperaktif, bukan berarti lantas membuat orangtua membebaskan anaknya untuk mengkonsumsi permen, cokelat, dan makanan yang manis-masnis sebanyak-banyaknya. Bagaimana pun, jenis makanan berbahan gula yang menjadi kegemaran anak-anak ini bisa berdampak buruk pada kesehatan jika dikonsumsi berlebihan, seperti menimbulkan obesitas, diabetes, hingga gigi berlubang.
Masalah yang lazim dialami anak-anak karena terlalu sering makan permen dan cokelat adalah gigi berlubang dan menimbulkan sakit gigi. Usai jajan permen di siang hari lantas malam harinya tidak bisa tidur sambil mengeluh giginya sakit. Meski sudah diberitahu untuk tidak makan permen atau cokelat dulu karena sakit giginya bisa kambuh tetap tak didengarkan. Setiap jajan yang dibelinya ya tetap makanan manis ini. Terkadang suka gemas ya Ma? Begitulah anak-anak, makanan manis berbahan gula ini memang sudah kepalang tak bisa jauh darinya. Meskipun demikian, Mama tak boleh menyerah untuk membatasi konsumsi makanan berbahan gula ini untuk si kecil. Jika si kecil sudah bisa diarahkan, beritahu untuk tidak jajan permen atau cokelat terlalu sering. Namun, jika ia masih susah diberitahu, Mama harus kreatif mencari cara supaya anak tidak mengkonsumsi makanan berbahan gula ini secara berlebihan.
Untuk menghindarkannya dari jajanan berbahan gula, sebaiknya Mama menyediakan makanan di rumah untuk si kecil dengan jenis makanan lain, seperti roti gandum, camilan sehat, buah-buahan, biskuit yang berasa gurih, dan sebagainya. Mama juga bisa mengalihkan perhatian anak untuk tidak jajan permen atau cokelat dengan mengajaknya beraktivitas kegemarannya di rumah, seperti menemani bermain barbie, mobil-mobilan, dan lain-lain. Selain itu, memberi pujian dan hadiah jika anak patuh tidak jajan permen dan cokelat juga bisa mengurangi kebiasaan buah hati jajan permen dan cokelat.







15 Jan 2014
Penulis Dewi Novianingsih
1 Komentar











