Setiap orang tua tentu ingin makanan yang dikonsumsi anak dan anggota keluarga lainnya memberikan nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh mereka. Akan tetapi, tahukah Anda bahwa jika tidak teliti, makanan yang disantap juga bisa membahayakan anggota keluarga. Oleh karena itu, ada baiknya Anda memperhatikan setiap makanan yang dimasak dan disajikan karena bisa jadi makanan tersebut dapat membuat Anda sekeluarga keracunan.
Keracunan makanan dapat terjadi setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi virus dan bakteri. Selain itu, keracunan makanan juga bisa diakibatkan oleh parasit, paparan racun atau bahan kimia. Keracunan makanan dapat menyebabkan beberapa gejala dari ringan sampai berat yang membuat Anda merasa tidak nyaman dan mengalami dehidrasi. Gejala ringan kemungkinan akan sembuh dalam waktu beberapa jam atau hari saja, sedangkan gejala yang parah seperti botulisme atau beberapa jenis keracunan toksin lainnya harus mendapatkan perawatan medis karena dapat membahayakan nyawa Anda.
Banyak bakteri yang dapat menyebabkan keracunan makanan. Orang yang sedang sakit dapat menularkan bakteri staphylococcus pada makanan yang mereka sajikan. Oleh karena itu, ada baiknya Anda tidak menyajikan makanan kepada si Kecil dan anggota keluarga lainnya ketika sedang sakit. Selain itu, Orang yang memakan atau meminum makanan dan minuman yang terkontaminasi bakteri E.Coli dapat terserang diare. Keracunan juga dapat terjadi setelah memakan daging unggas, telur dan daging yang terkontaminasi bakteri salmonella. Walaupun berpotensi menimbulkan gejala yang serius hingga kematian, namun kebanyakan kasus keracunan bakteri ini hanya menyebabkan gejala ringan. Bakteri yang berbahaya biasanya ada pada daging dan ikan baik yang sudah dimasak maupun yang mentah, produk susu, atau makanan yang dibiarkan dalam suhu ruangan terlalu lama.
Anda juga perlu berhati-hati dalam menyajikan makanan yang dikemas dalam kaleng. Makanan dalam kaleng dapat menyimpan bakteri yang dapat berkembangbiak walau tanpa oksigen dan bakteri tersebut tidak dapat hancur walaupun sudah dimasak. Bakteri ini dapat menyebabkan botulisme, yaitu keracunan makanan yang jarang terjadi namun berpotensi kematian pada si penderita.
Selain makanan kaleng, seafood mentah khususnya kerang-kerangan yang terkontaminasi juga dapat menyebabkan keracunan. Ada beberapa jenis jamur tertentu, buah beri-berian dan tumbuh-tumbuhan lainnya yang mengandung racun alami yang mematikan yang tidak seharusnya dimakan oleh manusia. Jamur beracun dapat tumbuh pada buah, sayur, gandum dan kacang yang tidak disimpan dengan tepat. Keracunan makanan karena bahan kimia dapat disebabkan oleh pestisida atau menyimpan makanan pada wadah yang tidak bersih.
Lalu, apa saja gejala yang dapat ditimbulkan dari keracunan makanan ini? Pada umumnya keracunan makanan dapat menyebabkan mual, muntah dan diare yang bisa disertai darah. Selain itu, ada beberapa gejala lainnya, seperti:
- Kram pada bagian perut, diare dan muntah-muntah dapat terjadi satu jam setelah memakan makanan tercemar bakteri staphylococcus dan setidaknya 10 hari setelah makan makanan yang terkontaminasi bakteri campylobacter. Gejala tersebut juga muncul setelah mengonsumsi makanan yang mengandung parasit seperti giardia. Penderita keracunan makanan ini akan sembuh dalam hitungan hari bahkan sampai berbulan-bulan tergantung jenis keracunan yang diderita.
- Muntah-muntah, diare, berkeringat, pusing, mata berair, air liur berlebihan, dan nyeri di bagian perut setelah makan makanan yang tercemar bahan kimia atau toksin.
- Hilangnya sebagian kemampuan berbicara dan penglihatan, otot-otot melemah, sulit menelan makanan, mulut kering, otot-otot dari kepala ke badan mengalami kelumpuhan dan muntah-muntah yang bisa jadi botulisme (keracunan makanan yang parah namun jarang terjadi yang biasanya diakibatkan oleh bakteri).
Apabila Anda dan keluarga mengalami gejala seperti yang telah dijelaskan di atas, segera hubungi dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Keracunan makanan dapat Anda cegah dengan beberapa cara, silakan klik di sini untuk info lengkapnya.
Baca Juga:







17 Sep 2014
Penulis Dinny Mutia
0 Komentar











